Hubungan Timbal balik dalam keluarga_bahan kelas XI

*Kewajiban suami terhadap istri :
1. Menghargainya,
2. Bersikap sopan kepadanya,
3. Berlaku setia kepadanya,
4. Memberikan kekuasaan mengatur rumah tangga kepadanya,
5. Memberikan perhiasan-perhiasan dan hadiah kepadanya

* Kewajiban istri terhadap suami :
1. Mengatur kehidupan rumah tangga dengan sebaik-baiknya,
2. Bersikap ramah tamah dan bersedia membantu sanak keluarga dan
teman-teman dari kedua belah pihak,
3. Setia kepada suami,
4. Menjaga baik-baik barang-barang suaminya,
5. Terampil dan rajin dalam segala tugasnya (mengurus rumah tangga).

* kewajiban orang tua kepada terhadap anak :
1. Mencegah anaknya berbuat jahat
2. Menganjurkan anaknya berbuat kebaikan
3. Melatih anaknya untuk dapat bekerja sendiri
4. Mencarikan pasangan yang sesuai bagi anaknya
5. Memberikan warisan pada waktu yang tepat

* Kewajiban anak terhadap orang tua
1. Setelah dibantu oleh mereka, kini giliranku membantu mereka,
2. Aku akan melakukan pekerjaan mereka untuk mereka,
3. Aku akan menjaga nama baik, kehormatan, dan tradisi keluargaku,
4. Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan,
5. Aku akan membuat persembahan, mendedikasikan jasa (kebajikan)
kepada mereka setelah meninggal.

Kewajiban guru terhadap murid
1. Melatih muridnya dengan baik sesuai dengan keahlian
2. Membuat murid menguasai pelajaran yang diberikan
3. Mengajar secara mendalam ilmu pengetahuan yang dikuasai
4. Menjaga muridnya setiap saat
5. Berbicara baik tentang muridnya kepada siapa saja dan di mana saja

Kewajiban murid terhadap guru
1. Bangun dari tempat duduk untuk memberikan penghormatan
2. Melayani gurunya dengan baik
3. Belajar dengan tekun
4. Memperhatikan dengan baik pada waktu diberi pelajaran
5. Memberikan jasa-jasa baik dan hadiah kepada guru

*Kewajiban terhadap sahabat :
1. Bermurah hati kepada mereka
2. Beramah tamah kepada mereka
3. Berbuat baik kepada mereka
4. Menepati janjikepada mereka
5. Menjamu mereka seperti menjamu diri sendiri

*Kewajiban sahabat terhadap kita :
1. Melindungi kita di saat kita sedang sedang lengah
2. Menjaga harta milik kita di saat sedang tidak siaga
3. Akan melindungi kita pada saat dalam bahaya
4. Selalu ada dalam keadaan suka dan duka
5. Selalu senantiasa menghormati kita

* Kewajiban umat terhadap orang suci (bhikkhu) 1. 1. Bertingkah laku yang sopan.
2. Berbicara yang ramah.
3. Selalu berpikir yang diliputi kemurahan hati.
4. Dengan membuka pintu rumah bagi mereka.
5. Menunjang kebutuhan materil mereka.

* Kewajiban orang suci (bhikkhu) terhadap umat :
1. Mencegah umat berbuat jahat.
2. Mendorong umat untuk melakukan kebajikan
3. Memperlakukan umat dengan pikiran cinta kasih.
4. Mengajarkan umat segala sesuatu yang belum diketahuinya.
5. Mengkoreksi dan mengklarifikasi apa yang umat pelajari.
6. Menunjukkan umat jalan ke surga.

* kewajjiban atasan terhadap bawahan :
1. memberi mereka sesuai dengan kemampuan mereka
2. memberi makanan dan gaji yang sesuai
3. memberi perwatan pada waktu sakit
4. memberi hadiah
5. memberi libur dan cuti pada waktu-waktu tertentu

* kewajiban bawahan terhadap atasan :
1. bangun (masuk kerja) lebih duu dari atasan
2. tidur (pulang kerja) setelah atasan tidur (pulang)
3. berterima kasih atas perlakuan yang diterima
4. bekerja dengan baik
5. memuji dan mengatakan kebaikan atasan pada semua orang

SIKAP UMAT BUDDHA_bahan kelas XI

Hidup para makhluk memang tidak lepas dari lingkungannya masing-masing.
Pandangan Buddhis mengenai hubungan manusia (makhluk) dengan lingkungannya tercermin dari ayat Dhammapada 49 sebagai berikut: “Bagai seekor lebah yang tidak merusak bunga, baik warna maupun baunya, pergi setelah memperoleh madu, begituilah hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa”. Dalam sebuah ekosistem, lebah tidak hanya mengambil keuntungan dari bunga, tetapi sekaligus membayarnya dengan membantu penyerbukan. Perilaku lebah memberi inspirasi, bagaiman seharusnya menggunakan sumber daya alam yang terbatas.
Kita membedakan sesuatu yang hidup dari benda mati, tetapi menurut prinsip kesalingbergantungan (paticcasamuppada) sesuatu yang hidup mengandung unsur-unsur yang tidak hidup. Dengan meneliti ke dalam diri sendiri, kita akan melihat bahwa kita memerlukan dan memiliki mineral atau unsur organik lainnya. Dalam Aganna sutta digambarkan hubungan timbal balik antara perilaku manusia dan evolusi perkembangan tumbuh-tumbuhan. Jenis padi (Sali) yang semula dikenal sebagai butiran yang bersih tanpa sekam, tetapi akhirnya berubah karena campur tangan dan sifat serakah manusia, sehingga akhirnya menjadi butiran-butiran padi yang bersekam.
Kehidupan individu satu dengan yang lainnya baik dalam lingkungan keluarga, maupun masyarakat berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang baik maupun yang buruk. Dalam usaha menciptakan lingkungan yang baik, maka Buddha menggariskan beberapa kewajiban timbal balik antar manusia dalam masyarakat.
Dalam Sigalovada Sutta, Buddha menjelaskan tentang kode disiplin umat perumah tangga. Seperti kewajiban timbal balik antar individu dalam keluarga dan masyarakat, persahabatan sejati dan palsu, enam saluran pemborosan, empat cacat tingkah laku yang harus dihindari, dll.

KODE DISIPLIN UMAT AWAM

Kode disiplin umat awan tercermin dalam khotbah Buddha yang berjudul Sigalovada Sutta. Kode disiplin tersebut berkenaan hal-hal yang harus dihindari dan hal-hal yang harus dilakukan dalam kehidupannya di masyakat. Kode disiplin tersebut diantaranya adalah:

1. Empat cacat tingkah laku yang harus disingkirkan, yaitu:
a. Membunuh makhluk hidup.
b. Mengambil apa yang tidak diberikan
c. Melakukan perbuatan Asusila (berzinah)
d. Ucapan yang salah.

2. Empat motif yang dapat menyebabkan perbuatan jahat yang harus dihindari, yaitu:
a. Sikap memihak
b. Permusuhan
c. Kebodohan
d. Ketakutan

3. Enam saluran yang menyebabkan hancurnya kekayaan, yaitu:
a. Penggunaan minuman keras yang menyebabkan hilangnya kesadaran.
Ada enam bahaya akibat perbuatan tersebut yaitu:
1) Memboroskan kekayaan
2) Meningkatkan pertengakaran
3) Mudah terserang penyakit
4) Kehilangan sifat-sifat yang baik
5) Hilang rasa malu (tidak mempunyai malu)
6) Lemahnya daya pikir (bodoh).

b. Berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas (suka berkeluyuran).
Ada enam bahaya yang ditimbulkan, yaitu:
1) Diri sendiri tidak terlindung
2) Anak dan Istri tidak terlindung
3) Harta kekayaan tidak terlindung
4) Dicurigai dan diragukan kebaikannya
5) Sering menjadi sasaran tuduhan
6) Banyak menjumpai kesukaran lainnya.

c. Sering (ketagihan) melihat pertunjukan dan hiburan lainnya
Bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut yaitu selalu berpikir tentang:
1) Di mana ada pertunjukan tari?
2) Di mana ada pertunjukan nyanyian?
3) Di mana ada musik?
4) Di mana ada pertunjukan deklamasi?
5) Di mana ada pertunjukan nyanyian yang disertai sorak sorai dan tepuk tangan?
6) Di mana ada tambur?

d.Gemar berjudi
Ada enam bahaya yang ditimbulkan, yaitu:
1) Bila menang menyebabkan orang lain benci dan dendam
2) Bila kalah timbul penyesalan atas harta benda yang telah lenyap
3) Harta bendanya terhambur-hamburkan
4) Tidak ada yang mempercayai ucapannya
5) Dipandang rendah oleh sahabat dan pejabat pemerintah
6) Tidak ada seorang pun yang bersedia menikahkan anak perempuannya dengannya.

e. Bersahabat dengan orang-orang yang berwatak buruk
Ada enam bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut, yaitu dia memiliki teman-teman dan sahabat yang terdiri dari:
1) Penjudi
2) Orang-orang yang kurang ajar
3) Pemabuk
4) Penipu
5) Pengecoh
6) Orang yang kasar (sering berkelahi)

f. Kebiasaan bermalas-malasan.
Ada enam bahaya yang ditimbulkan oleh kebiasaan tersebut yaitu:
1) Ia berkata, “udara terlalu dingin”, dan tidak bekerja
2) Ia berkata, “udara terlalu panas”, dan tidak bekerja
3) Ia berkata, “terlalu pagi”, dan tidak bekerja
4) Ia berkata, “terlalu siang”, dan tidak bekerja
5) Ia berkata, “sangat lapar”, dan tidak bekerja
6) Ia berkata, “sangat kenyang”, dan tidak bekerja

4. Sahabat Palsu dan Sahabat Sejati.

a. Empat sahabat palsu.
1) Orang yang berjiwa perampok.
Dengan memiliki empat ciri yaitu:
- Benar-benar tamak
- Memberi sedikit meminta banyak
- Memberi bantuan ketika dia sendiri dalam bahaya
- Bersahabat hanya karena demi kepentingan dirinya sendiri

2) Orang yang banyak bicara (tetapi tidak mengerjakan sesuatu).
Dengan memiliki empat ciri, yaitu:
- Berbicara hal-hal yang telah lampau (rayuan kosong)
- Berbicara hal-hal yang akan datang (janji palsu).
- Berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong
- Menawarkan bantuan ketika tidak diperlukan, tetapi ketika diperlukan ia berkata tidak sanggup

3) Seorang Penjilat.
Dengan memiliki empat cirri, yaitu:
- Ia menyetujui perbuatan salah anda
- Ia menyetujui perbuatan benar yang anda lakukan
- Di depan ia memuji-muji anda
- Di belakang anda, dia mencela anda

4) Pemimpin menuju kehancuran.
Dengan memiliki empat cirri, yaitu dia akan menjadi sahabat bila kita mau:
- Menyerah pada minuman keras
- Berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas
- Sering menonton pertunjukan dan pergi ke rumah bordil
- Menggemari judi

b. Empat Sahabat Sejati.
1) Orang yang suka menolong.
Dengan empat ciri:
- Ia menjaga anda pada waktu anda lengah
- Ia menjaga milik anda pada waktu anda lengah
- Ia menjadi pelindung anda pada waktu anda dalam bahaya
- Dia bersedia membantu lebih dari apa yang anda minta

2) Orang yang menjadi sahabat dalam suka dan duka
Dengan empat ciri:
- Ia menceritakan kepada anda rahasia-rahasianya
- Ia menjaga rahasia-rahasia anda
- Ia tidak akan meninggalkan ketika anda dalam kesusahan
- Ia bahkan bersedia mati demi anda

3) Orang yang memberi nasihat yang baik.
Dengan empat ciri:
- Ia mencegah anda berbuat jahat
- Ia mendorong anda berbuat baik
- Ia memberi informasi tentang hal-hal yang belum anda dengar
- Ia menunjukkan anda jalan ke surga

4) Orang yang simpati dalam persahabatan.
Dengan empat ciri:
- Tidak bersuka cita atas kemalanganmu
- Ia bersuka cita ketika anda beruntung
- Ia memprotes orang lain yang menjelek-jelekan anda
- Ia memuji orang yang membicarakan hal baik tentang anda

Tilakkhana_bahan kelas XI

Pengertian Tilakkhana
Ti = Tiga, dan Lakkhana = Corak umum. Jadi Tilakkhana adalah tiga corak umum dari segala sesuatu (Dhamma)

Tiga Corak Umum adalah kenyataan alam yang dihubungkan dengan seluruh keberadaan walaupun berbeda ruang dan waktu. Tiga Corak Umum memberikan sifat dari semua benda. Buddha mengajarkan bahwa semua keberadaan yang berkondisi terpengaruh oleh Tiga Corak Umum

Hukum Tilakkhana terdiri dari :
Anicca Lakkhana
Dukkha Lakkhana
Anatta Lakkhana

Anicca Lakkhana
Disebut juga Sabbe sankhara anicca yaitu bahwa segala sesuatu yang berbentuk dan bersyarat adalah tidak kekal

Segala sesuatu yang tidak kekal terdiri dari tiga rangkaian :

Uppada : Timbul
thiti : berlangsung
bhanga : lenyap

Anicca adalah ketidak-kekalan yang mencakup semua yang bersyarat
Anicca adalah fenomena yang dipandang dari sudut pandang waktu. Segala sesuatu di lam, baik fisik ataupun mental selalu mengalami perubahan, tidak pernah tetap sama walaupun hanya dalam perbedaan detik. Karena segala sesuatu merupakan hasil dri sebab-sebab dan kondisi yang berubah, maka segala sesuatu juga terus-menerus berubah

Hukum Anicca bersifat netral dan tidak memihak, serta tidak dikuasai oleh hukum yang lebih tinggi. Dengan mengerti Anicca kita dapat menyadari bahwa komponen terkecil dari benda yang padat sekalipun hanyalah aliran energi. Karena itu pikiran yang tidak terlatih umumnya lebih berkeliaran dan cenderung untuk berubah, tidak mempunyai kestabilan. Semua elemen hidup dan tidak hidup adalah subyek yang akan membusuk dan rusak.

Arti dan contoh Anicca
Artinya ketidak kekalan, contoh: Proses setangkai bunga,proses diri kita sendiri.

Sebab-sebab kita tdk selalu menyadari adanya Anicca, karena:
1) Perhatian kita tdk ditujukan kpd proses perubahan tsb.
2) Proses tsb ada yg berlangsung dgn sangat cepat.
3) Proses tsb ada yg berlangsung sangat lambat.
4) Kita selalu terbawa arus Lobha. Dosa, dan Moha, shg
selalu kecolongan tdk dpt melihat proses tsb.

Hendaknya kita dpt melihat Anicca di dlm diri sendiri
Kalau kita sudah dpt melihat anicca di dlm diri sendiri, hal ini disebut sdh mpy Nana.

Masih ada yg tdk mau tahu, bahkan menolak thdp Anicca
Kita kadang2 tdk mau tahu, bahkan menolak hukum ini. Akibatnya kita tertimpa ketidakpuasan, kesedihan, juga kesombongan, memiliki pandangan salah.

Manfaat mengerti Anicca
Menjadi tdk sombong,ulet dan tdk berputus asa.

Kadar pengertian kita saat ini thdp Anicca, ada 3 tataran pengertian yaitu:
1. Suta maya panna
2. Cinta maya panna
3. Bhavana maya panna

Dukkha Lakkhana
Disebut juga dengan Sabbe Sankhara Dukkha
Segala sesuatu yang berbentuk dan bersyarat adalah dukkha (tidak memuaskan)

Macam-macam Dukkha
Dukkha sebagai derita biasa disebut dukkha-dukkha, misalnya dilahirkan, sakit, tua, dan mati. Berkumpul dengan orang yang tidak disukai, dan berpisah dengan orang yang disukai dll.

Dukkha sebagai akibat adanya perubahan-perubahan, disebut viparinama dukkha. Misalnya sekarang kita tertawa, tetapi nanti atau lusa kita mungkin akan menangis, dll.

Dukkha sebagai akibat dari keadaan yang berkondisi, disebut sankhara dukkha. Misalnya kita tidak dapat melihat jika tidak ada kondisi mata sehat, cahaya yang cukup, objek yang jelas, dan perhatian.

Dukkha juga dapat dipahami bahwa tidak ada sesuatu pun di alam ini yang dapat memberi kita kepuasan yang lengkap dan kekal abadi. Hal ini dikarenakan adanya perubahan terus menerus pada segala hal (termasuk yang kita simpan), dan juga nafsu keinginan yang selalu berubah dalam pikiran kita yang tidak terlatih. Bahkan dalam pengalaman yang paling menyenangkan sekali pun, terdapat kecemasan bahwa saat itu tidak akan berlangsung lama. Mencari kebahagiaan secara terus-menerus dengan pikiran yang selalu berubah menyebabkan penderitan. Hal ini juga menghasilkan penderitaan dalam bentuk kelahiran yang berulang-ulang.

Anatta Lakkhana
Disebut juga dengan Sabbe Dhamma Anatta
Segala sesuatu ang muncul dan bersyarat adalah tanpa aku atau tanpa jiwa yang kekal
Segala sesuatu yang terjadi karena sebab dan kondisi tidak memiliki inti yang berdiri sendiri

Kita harus memahami kebenaran Anatta ini, karena bila kita tidak menyadari kenyataan ini akan cenderung egois dan mementingkan diri sendiri. Orang yang seperti itu tidak hanya merasa selalu terancam oleh orang ;ain dn keadan tertentu, orang itu juga akan memaksakan kehendak melindungi dirinya, harta bendanya, bahkan pendpatnya berapa pun biayanya.

Dengan menyadari kenyataan ini seseorang akan lebih mudah tumbuh, belajar, berkembang, dan menjadi murah hati, baik hati, dan welas asih. Seseorang akan menghadapi situasi sehari-hari dengan lebih baik, menambah kemajuan menuju kebahagiaan sejati.

KESIMPULAN

Ketiga Corak Umum tersebut saling berhubungan satu sama lain. Apapun yang karena tanpa inti yang kekal (Anatta) akan selalu berubah (Anicca), sehingga menyebabkan penderitaan (dukkha) jika kita melekat pada mereka. Nibbana adalah keadaan damai tanpa terpengaruh oleh ketiga corak tersebut.

Anicca harus disadari dan dimengerti dengan jelas oleh kita. Karena ketika seseorang menyadari bahwa orng (kepribadian, minat, dan sikap mereka) dan situasi apapun tidak tetap dan selalu berubah, maka seseorang akan mendekati setiap momen yang bersifat hubugan dengan pikiran terbuka dapat bereaksi dengan tiap situasi baru tanpa pandangn yang melekat. Dengan demikian hubugan dapat dikembangkan dengan baik.

Kesuksesan dalam hidup tergantung kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan perubahan situasi dan menciptkan kesempatan-kesempatan baru. Kita akan lebih sukses dlam berusaha bila kebenaran ini dapat disadari. Kita juga akan belajar menghadapi kesehatn, kedan sehat, hubugan baik, dan hidup tanpa trikat, serta mengguanakan keadan sehat kita dengan penuh perhatian utnuk berlatih dalam jalan menuju kebagiaan sejati ati Penerangan Sempurna. Dengan memahami Anicca seseorang juga dapat mengubah penderitaan menjadi kegembiran.

Wortel, Telur dan Biji Kopi

Apakah Anda suka dengan wortel, telur  atau kopi????

Pilihan anda merupakan cara yang Anda pilih untuk memecahkan masalah dalam hidup ini.

Tarulah wortel, telur dan bubuk kopi ke dalam mankok, lalu panaskan sampai mendidih. Hasilnya akan diperoleh wortel yang tadinya keras menjadi lembek. Sedangkam telur yang tadinya lembut di dalam menjadi keras dan bubuk kopi hilang bubuknya tetapi air berubah warna kopi dan memiliki aroma yang nikmat.

Sekarang bayangkan tentang hidup ini, hidup tidak selalu mudah, hidup tidak selalu menyenangkan dan hidup kadang-kadang sangat keras serta banyak masalah. Semua terjadi tidak sellalu sama seperti yang kita harapkan. Kita bekerja keras tetapi kita mendapat hasil yang sedikit.

Bayangkann air mendidih, diibaratkan sebagai masalah. Jika kita wortel, yang masuk dengan keras dan keluar dengan lunakdan lemah. Kita menjadi sangat lelah, kita menyerah dan kehilangan harapan. JANGAN SEPERTI WORTEL.

Jika kita telur, kita memulai dengan hati yang lembut dan peka, tetapi berakhir dengan hati yang keras dan tanpa perasaan. Kita benci diri sendiri dan orang lain. Hati kita menjadi membeku. Tidak ada kehangatan yang kita rasakan. Yang kita peroleh hanya kepahitan saja. JANGAN SEPERTI TELUR.

Tapi jika kita menjadi bubuk kopi, air tidak bisa mengubah bubuk kopi. Tetapi kopi yang mengubah air. Airnya berubah menjadi berwarna kopi. CIUM! MINUM! & RASAKAN! NIKMAT!!!! Makin panas airnya, rasanya semakin NENDANG. Kita dapat memaknai setiap masalah yang terjadi. Kita membuat sesuatu yang indah dari kesukaran yang kita hadapi. Kita belajar sesuatu, mendapat pengalaman baru, pengetahuan baru da memiliki kemampuan dan ketrampilan baru.

Kita tumbuh bersama pengalaman. Kita membuat sekeliling kita menjadi lebih indah. Untuk meraih suatu kesuksesan kita tidak boleh menyerah, kita harus sabar, kita harus yakin dengan apa yang kita lakukan. Kita harus mendorong dan mendorong lagi untuk lepas dari kesukaran. Untuk SUKSES kita harus MENCOBA dan MENCOBA lagi.

Persoalan dan  kesukaran memberi kita kesempatan untuk menjadi lebih kuat, lebih baik dan lebih tanggap.

NAH

Mau menjadi seperti apakah kita ketika menghadapi persoalan

Seperti WORTEL????
Seperti TELUR???? Atau mejadi bubuk kopi.

JADILAH PESERTI BIJI KOPI

 

Pesan tutor Seminar Museum Listri & Energi Baru 29 Juli 2008

Agama Untuk Hidup

Ceramah Bhante Uttamo 
 
Agama Untuk Hidup

Berbagai agama dan kepercayaan telah muncul dan menjadi milik seluruh penghuni dunia. Hampir setiap orang di muka bumi ini memiliki agama atau kepercayaan. Namun, sayangnya cukup banyak pula orang yang kebingungan untuk menentukan fungsi agama. Mereka sulit membedakan antara “apakah agama untuk hidup, ataukah hidup untuk agama?” Karena adanya kebingungan inilah maka banyak orang yang kemudian rela mati demi membela agama, atau mungkin sebaliknya ia terkesan tidak perduli terhadap agamanya. Kalau timbul dua sikap yang saling bertolak belakang seperti ini, sikap apakah yang sebaiknya dilakukan oleh seorang umat beragama?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kiranya perlu diketahui dan disepakati terlebih dahulu bahwa seseorang memilih agama bukan berdasarkan masalah benar atau salahnya suatu agama. Kebenaran maupun kesalahan suatu agama sesungguhnya tidak mudah dibuktikan dalam waktu singkat. Misalnya, suatu agama menjanjikan adanya kelahiran di surga setelah seseorang mengikuti agama tersebut, tentu saja kebenaran tentang hal ini agak sulit diketahui karena sepertinya belum pernah ada orang yang sudah meninggal dunia kemudian hidup kembali di tengah keluarganya untuk ‘melaporkan’ kebenaran ajaran ini. Oleh karena itu, lebih banyak orang hanya mempercayai segala sesuatu yang tertulis dalam Kitab Suci sebagai suatu kebenaran mutlak tanpa ada usaha mencari pembuktian yang mendukung kebenaran tersebut.

Apabila telah disepakati agama dipilih berdasarkan kecocokan yang bersifat sangat pribadi dan relatif maka semua tentu setuju pula bahwa tidak ada alasan bagi seseorang untuk memaksa orang lain agar mempunyai kecocokan agama yang sama dengan dirinya. Hal ini sama dengan seseorang memilih makanan. Apabila seseorang gemar makanan manis, maka tidak seharusnya ia memaksa dan memusuhi mereka yang tidak mempunyai kegemaran yang sama. Apabila semakin banyak orang yang memiliki pengertian bahwa agama sesungguhnya dipilih berdasarkan kecocokan, maka semakin besar pula harapan untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang aman, tentram dan damai walaupun seseorang hidup di tengah berbagai penganut agama dan kepercayaan yang berbeda.

Dalam Dhamma, setelah seseorang cocok dan memilih Ajaran Sang Buddha sebagai agama serta pedoman hidupnya, maka ia hendaknya bersikap selaras dengan nasehat yang diberikan Sang Buddha. Sang Buddha sering mengumpamakan Dhamma atau Ajaran Beliau sebagai rakit yang dipergunakan untuk menyeberangi lautan ketamakan, kebencian serta kegelapan batin sehingga seseorang tiba di pantai seberang yaitu kebebasan dari kelahiran kembali. Dengan demikian, ketika seseorang hendak menyeberangi lautan itu, ia haruslah menjaga serta merawat rakit tersebut dengan teliti. Artinya, selama seseorang masih diselimuti oleh ketamakan, kebencian serta kegelapan batin, ia hendaknya berusaha mempelajari serta melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sebaik-baiknya. Dalam tahap ini, ia harus memperhatikan kelestarian dan kemajuan Buddha Dhamma di muka bumi ini. Namun, setelah ia mencapai pantai seberang yaitu tercapainya kesucian, maka ia boleh saja meninggalkan rakit itu. Rakit tersebut hanyalah alat. Sudah tidak pada tempatnya orang yang telah berhasil menyeberang masih saja susah payah membawa rakit itu kemanapun ia pergi. Demikian pula dengan Buddha Dhamma. Setelah seseorang mencapai kesucian, maka ia hendaknya tidak terikat lagi dengan Ajaran Sang Buddha. Ia telah menjadikan Dhamma sebagai jalan hidup yang sama sekali tidak dapat dipisahkan lagi dari dirinya. Ia hidup, berbicara, bekerja dan berpikir selalu selaras dengan Dhamma tanpa harus mengaku atau menyatakan diri sebagai pemeluk suatu agama tertentu. Ia telah menyatu dalam Ajaran. Ia telah mencapai tujuan hidup tertinggi seorang umat Buddha yaitu terbebas dari kelahiran kembali atau mencapai Nibbana atau Nirvana.

Apabila seseorang telah menyadari bahwa Buddha Dhamma hanyalah sebagai rakit atau sarana untuk menyeberangkan seseorang ke pantai seberang, maka kini ia hendaknya merenungkan :”Sudahkah saya memanfaatkan Ajaran Sang Buddha untuk meningkatkan kualitas batin saya?” Pertanyaan ini sangat penting untuk selalu didengungkan dalam batin agar selalu timbul semangat melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Dhamma bukan sekedar upacara ritual saja. Dhamma berisikan Ajaran Sang Buddha untuk menaklukkan ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Dengan demikian, idealnya, semakin lama seseorang mengikuti suatu agama, semakin baik dan terjaga pula perilakunya. Oleh karena itu, semakin banyak pula manfaat dan kebahagiaan yang diperoleh lingkungannya terhadap kehadiran dia di sana.

Sayangnya, dalam praktek hidup beragama, sering dijumpai mereka yang tekun dan rajin melakukan upacara ritual namun tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas perilaku yang sepadan. Mereka hanya melihat agama sebagai lambang atau obyek pemujaan saja. Bahkan, lebih parah lagi, ada sebagian orang menjadikan kegiatan ritual sebagai wisata spiritual. Mereka pergi ke tempat ibadah hanya untuk mendapatkan teman bergurau, memamerkan baju baru, menunjukan handphone terbaru dsb. Mereka tidak sungguh-sungguh menjalani ajaran agama. Bahkan, tingkah laku para senior dalam suatu agama pun sering tidak dapat dijadikan contoh maupun teladan bagi umat yang baru. Jika sudah demikian keadaannya, hendaknya direnungkan sebuah nasehat dalam Dhamma bahwa seseorang menjadi baik bukan karena lamanya ia mengenal suatu agama melainkan karena upaya pelaksanaan Ajaran luhurnya. Kiranya, mereka yang telah mempunyai cara berpikir benar tentang pemilihan agama serta mampu menjadikan Dhamma sebagai rakit untuk memperbaiki perilaku, maka ia lah yang akan berhasil menyeberangi lautan kelahiran kembali.

Agar seseorang mampu menyeberangi lautan ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, ia hendaknya mempergunakan rakit Dhamma yang terdiri dari tiga perilaku kebajikan. Ketiga perilaku tersebut adalah kerelaan, kemoralan serta konsentrasi. Ketiga perilaku kebajikan ini menjadi sarana ampuh untuk mengatasi lautan ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Kerelaan mampu mengatasi ketamakan. Kemoralan mampu mengatasi kebencian dan konsentrasi mampu mengatasi kegelapan batin.

Agar lebih jelas, berikut ini akan diuraikan sepintas rakit Dhamma yang perlu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebajikan pertama adalah kerelaan yang berguna untuk mengatasi ketamakan.

Seperti telah diketahui bersama bahwa manusia pada awalnya merasakan kebahagiaan ketika ia mampu mendapatkan segala yang ia inginkan. Ketika masih bayi dan merasa lapar, ia menangis dan dia menjadi tenang ketika mendapatkan makanan. Ketika seseorang menjadi dewasa, ia akan berbahagia apabila ia mampu mewujudkan atau mendapatkan keinginannya, misalnya sukses bekerja dan berumah tangga. Tentu saja masih sangat banyak contoh kebahagiaan jenis seperti ini.

Selain kebahagiaan karena mendapat, kebahagiaan yang lebih tinggi adalah memberi. Kebahagiaan jenis ini diperoleh ketika seseorang mampu merelakan sebagian dari miliknya demi kebahagiaan fihak lain. Jadi, ketika ia masih kanak-kanak, ia merasa bahagia pada saat ia mampu meminjamkan atau bahkan memberikan alat permainannya kepada teman yang kurang mampu. Ketika ia telah dewasa, ia berbahagia pada saat ia mampu berbagi atau memberikan sebagian hasil kerjanya untuk kesejahteraan penghuni panti asuhan maupun yayasan sosial lainnya. Ia merasakan kedamaian dan kebahagiaan ketika ia mampu berbagi atau memberi. Ia berbahagia karena ia mampu mengatasi ketamakan dengan kerelaan. Inilah rakit kerelaan yang mampu mengantarkan seseorang menyeberangi lautan ketamakan.

Kebajikan kedua adalah kemoralan yang bermanfaat untuk mengatasi kebencian.

Latihan kemoralan paling mendasar dalam Dhamma adalah Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan. Kelima latihan kemoralan itu adalah latihan untuk tidak membunuh, latihan untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan secara sah atau mencuri, latihan untuk tidak melanggar kesusilaan atau berjinah, latihan untuk tidak berbohong dan latihan untuk tidak mabuk-mabukan. Seseorang yang rajin melaksanakan lima latihan kemoralan ini akan mampu mengikis bahkan melenyapkan kebencian yang timbul dalam batin. Kebencian yang dimaksudkan di sini tentu saja dalam arti yang seluas-luasnya.

Ketika seseorang mampu melatih diri untuk tidak membunuh, maka ia sesungguhnya mulai mampu mengurangi kebencian pada obyek yang biasa dibunuhnya. Misalnya, ia terbiasa membunuh semut yang sering berada di atas meja makan. Jika diteliti, dasar tindakan ini adalah kebencian terhadap semut yang telah mengganggu makanannya. Ia menganggap pembunuhan adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini. Padahal, sesungguhnya pembunuhan hanya salah satu cara mengatasi masalah. Ia mungkin saja bisa meletakkan sejenis cairan di kaki meja makan sehingga mencegah semut naik ke meja dan mengganggu makannya. Kemauan untuk menghindari pembunuhan ini menjadi salah satu upaya mengurangi kebencian.

Demikian pula dengan latihan tidak mengambil barang yang tidak diberikan atau mencuri. Salah satu penyebab timbulnya niat mencuri adalah ketidakmampuan seseorang untuk melihat kelebihan orang lain. Dalam batinnya timbul sejenis ‘kebencian’ atas keberhasilan atau kelebihan orang lain. Apabila seseorang mampu mengendalikan diri serta mampu melenyapkan dorongan untuk mencuri, maka ia sudah setahap mempunyai kemampuan untuk mengatasi ‘kebencian’ yang mencengkeram batinnya.

Adapun latihan untuk tidak berjinah atau melanggar kesusilaan diperlukan karena perjinahan terjadi ketika pelaku perjinahan tidak ingin terikat oleh peraturan negara, agama maupun masyarakat. Ia ingin bebas memuaskan keinginannya. Ia ‘benci’ dengan segala peraturan yang membatasi berbagai hubungan dalam masyarakat. Dengan demikian, ketika seseorang mampu mengendalikan diri untuk tidak berjinah atau melanggar kesusilaan, maka ia sudah mulai mampu mengendalikan ‘kebencian’ yang timbul dalam batinnya terhadap berbagai peraturan yang harus dipatuhi sebagai konsekuensi logis hidup bersama dalam masyarakat. Ia telah sadar bahwa sebagai anggota masyarakat ia tentu harus terikat untuk mematuhi aturan serta kesepakatan yang ada.

Sedangkan latihan untuk tidak berbohong adalah latihan untuk mengurangi bahkan melenyapkan ‘kebencian’ seseorang pada kebenaran diri yang mungkin menyakitkan atau memalukannya. Ia tidak ingin mengungkapkan kebenaran yang mengkondisikan dirinya tampak buruk dihadapan orang lain. Ia ‘benci’ kenyataan buruk atas dirinya ini. Ia lebih baik berbohong daripada mendapatkan celaan. Padahal, dengan mampu berlatih untuk tidak berbohong, seseorang sudah mulai mampu mengurangi ‘kebencian’ terhadap kenyataan buruk yang ada pada dirinya. Ia mampu menerima kenyataan dan keburukan dirinya sebagaimana adanya.

Terakhir adalah latihan untuk tidak makan serta minum barang-barang yang memabukkan. Dorongan untuk mabuk sering timbul karena seseorang ‘membenci’ kenyataan pahit yang harus dialaminya. Ia tidak menyukai penderitaan yang datang dalam hidupnya. Ia ingin melarikan diri dari kenyataan. Oleh karena itu, mereka yang mampu menahan diri untuk tidak mabuk-mabukan adalah orang yang mulai mampu mengendalikan ‘kebencian’ dari dalam batinnya.

Dengan uraian singkat pelaksanaan masing-masing latihan kemoralan di atas, kiranya sudah sangat jelas bahwa kelima latihan kemoralan tersebut menjadi sarana ampuh atau rakit Dhamma untuk menyeberangi lautan kebencian yang ada dalam diri seseorang.

Kebajikan ketiga adalah mengembangkan konsentrasi untuk mengatasi kegelapan batin.

Kegelapan batin yang dimaksudkan di sini adalah ketidakmampuan seseorang untuk melihat kenyataan hidup bahwa segala sesuatu selalu berubah, tidak kekal. Ketidakmampuan ini menjadikan pikirannya selalu berada di masa lampau maupun masa yang akan datang. Padahal, masa lampau hanya tinggal sejarah yang harus dijadikan pelajaran. Sedangkan masa depan adalah harapan yang harus dijadikan tujuan. Dengan demikian, masa sekarang adalah kenyataan. Masa sekarang adalah saat tepat untuk mengisi kehidupan dengan berbagai perbuatan baik secara maksimal agar dapat memperbaiki masa lalu dan meningkatkan kualitas batin di masa depan.

Agar seseorang mampu mengendalikan pikiran untuk selalu sadar bahwa hidup adalah saat ini, ia hendaknya membiasakan diri melatih pikiran dengan latihan konsentrasi atau lebih dikenal dengan meditasi. Ada bermacam-macam cara meditasi. Namun, dalam kesempatan ini akan diuraikan salah satu cara yang paling sederhana dan mudah dipraktekkan.

Pada prinsipnya, meditasi dilakukan dengan mengamati dan menyadari segala gerak gerik pikiran, ucapan maupun perbuatan. Latihan konsentrasi ini dibantu dengan sering mengucapkan dalam batin kalimat pertanyaan, “Saat ini saya sedang apa?” Kemampuan seseorang untuk selalu sadar bahwa hidup adalah saat ini akan menjadikan batinnya selalu tenang. Ia mengerti bahwa kegelisahan timbul ketika ia memikirkan masa lampau maupun masa depan. Ia juga mengerti bahwa hal itu pula yang menyebabkan timbulnya kecemasan. Dengan selalu sadar bahwa hidup adalah saat ini, ia menjadi terbebas dari kegelisahan maupun kecemasan. Ia sadar sepenuhnya bahwa hidup selalu berubah. Ia tidak lagi terpengaruh oleh perubahan. Batinnya seimbang. Ia terbebas dari kegelapan batin. Ia mencapai kesucian atau Nibbana. Latihan konsentrasi menjadi sarana ampuh atau rakit untuk menyeberangi lautan kegelapan batin.

Dengan melakukan ketiga kebajikan yaitu kerelaan, kemoralan serta konsentrasi seseorang akan mampu mengatasi ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Ia akan mencapai kesucian atau Nibbana. Ia mencapai tujuan akhir dan tertinggi seorang umat Buddha. Oleh karena itu, tidak ada waktu lagi untuk seseorang menunda kesempatan mengembangkan ketiga kebajikan tersebut di setiap saat. Jadikanlah agama sebagai rakit karena agama adalah untuk hidup, bukan hidup untuk agama. Pergunakanlah setiap waktu kehidupan yang sangat berharga untuk mengendarai rakit Dhamma menyeberangi lautan kegelapan batin.

Semoga keterangan singkat tentang ‘agama untuk hidup’ ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Semoga pemahaman tentang rakit Dhamma akan mendorong setiap orang selalu bersemangat melaksanakan Ajaran Sang Buddha untuk mencapai pantai seberang dalam kehidupan ini pula.

Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak, akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing.

Semoga demikianlah adanya.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
 
 

Anakku

Anakku dilahirkan oleh istriku pada suatu pagi yang tidak begitu cerah. Hari itu adalah hari Senin tanggal 22 Oktober 2007 di sebuah rumah sakit bersalin pada pukul 07.32 WIB.

Anakku berjenis kelamin perempuan, dilahirkan dalam kondisi sehat dan sempurna dengan berat badan 29.5 ons dan panjang 48.3 cm.

Anakku diberikan sebuah nama olehku sendiri dengan membaca referensi dan beberapa literature (kitab suci). Namanya adalah ANGGIRA MUTTA KALYANI. Nama ini memiliki arti sebuah “WISH” harapan. Anggira Mutta Kalyani bersal dari bahasa Pali (salah satu bahasa di India) Anggira berarti sesuatu yang bersinar cemerlang, Mutta berarti mutiara, Kalyani berarti wanita yang cantik.

Jadi nama Anggira Mutta Kalyani mengandung arti yang berupa sebuah harapan yaitu kelak ia akan menjadi seorang wanita yang cantik yang dapat bersinar seperti mutiara.

Sekarang anakku berusia 19 hari. So yang dia kerjakan hanya menyusu pada ibunya, tidur dan menangis kalo merasa dahaga, lapar dan kalo mengompol ha ha ha.

Itu saja cerita hari ini.

Bangga Sebagai Umat Buddha

Keyakinan pada Ajaran Sang Buddha akan memberikan kebahagiaan
di dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.

Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang seorang umat Buddha berada sendirian di masyarakat. Kesendirian ini dapat terjadi karena jumlah umat Buddha memang tidak terlalu banyak di Indonesia. Namun, jumlah sedikit atau bahkan satu-satunya umat Buddha dalam suatu lingkungan hendaknya tidak membuat seorang umat Buddha kecil hati atau malah rendah diri. Ia hendaknya justru tetap berusaha mempertahankan keyakinannya pada Ajaran Sang Buddha.

Upaya mempertahankan keyakinan walaupun sendirian atau satu-satunya umat Buddha dalam suatu lingkungan ini hendaknya bisa meniru atau meneladani kehidupan Sang Guru Agung, Sang Buddha Gotama. Ketika Beliau masih kecil, sekitar umur tujuh tahun, Beliau sudah mampu bermeditasi sehingga mencapai tingkat konsentrasi yang tinggi. Jelas kemampuan ini adalah kemampuan langka untuk anak seusia Beliau. Kiranya Beliau adalah satu-satunya anak yang mampu mencapai tingkat meditasi seperti itu. Bahkan mungkin sampai saat ini sekalipun. Luar biasa !

Selanjutnya, pada usia 29 tahun Beliau rela meninggalkan istana yang mewah dan keluarga bahagiaNya untuk bermeditasi di hutan belantara yang berbahaya. Tujuan kerelaan Beliau ini adalah untuk berjuang mencari jalan keluar agar umat manusia tidak lagi menderita ketika mereka harus mengalami usia tua, sakit dan mati. Beliau menginginkan semua umat manusia berbahagia, terbebas dari semua penderitaan. Sungguh mulia niat Beliau. Beliau menjadi satu-satunya orang yang berpikir demikian. Luar biasa !

Selama bertahun-tahun tinggal di tengah hutan belantara, Beliau bermeditasi dan berpuasa dengan sangat disiplin. Akibatnya, badan Beliau menjadi sangat kurus hingga seperti tulang berbalut kulit saja. Latihan meditasi yang sedemikian hebat tidak pernah dilakukan oleh pertapa lain sebelumnya. Hanya Beliau satu-satunya pertapa yang mampu melakukannya. Luar biasa !

Namun, karena puasa yang berlebihan ternyata tidak membawa hasil seperti yang diharapkan, maka Beliau mengubah cara puasaNya dengan menerima dana makan agar Beliau tetap mampu menjaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaranNya kembali. Sikap menerima dana makan ini dianggap sebagai kelemahan dan kemunduran latihan puasaNya sehingga Beliau ditinggal oleh lima teman pertapaNya. Padahal kelima teman itu telah bertahun-tahun setia menemani Beliau. Tentu saja, setelah itu, Beliau menjadi satu-satunya orang yang berlatih meditasi tanpa teman yang membantunya. Luar biasa !

Selama sendirian bermeditasi, Beliau akhirnya menemukan cara untuk mengembangkan kesadaran pada segala gerak gerik pikiran, ucapan dan perbuatan. Beliau menemukan cara meditasi yang disebut dengan Vipassana Bhavana atau meditasi pandangan terang. Dengan cara meditasi seperti ini, Beliau akhirnya mencapai Nibbana atau kesucian sehingga Beliau tidak terlahirkan kembali. Apabila seseorang sudah tidak terlahirkan kembali, maka ia pasti tidak akan mengalami usia tua, sakit dan mati. Akhirnya, tujuan luhur inipun tercapai. Beliau telah menemukan dan mengajarkan satu-satunya cara bermeditasi yang dapat mengkondisikan seseorang terbebas dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Inilah sistem meditasi yang khas ditemukan oleh Sang Buddha. Sistem meditasi yang mampu membebaskan seseorang dari lingkaran kelahiran kembali, sakit, tua dan mati. Luar biasa !

Menyimak berbagai kelebihan Sang Guru yang luar biasa tersebut, kiranya dapatlah ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang ingin mencapai suatu keberhasilan, ia hendaknya mampu mempertahankan berbagai nilai tertentu. Memang, sebagai akibat keteguhannya dalam mempertahankan nilai tersebut, seseorang mungkin akan dijauhi oleh lingkungannya. Ini adalah hal biasa dan jangan terlalu dipikirkan. Ia harus yakin akan kebenaran serta kebaikan nilai yang ia pertahankan selama ini. Dalam pengertian Dhamma, nilai hidup yang perlu dipertahankan walau mungkin beresiko ditinggalkan oleh siapapun juga yang berada di sekitarnya adalah niat untuk melaksanakan hidup sesuai dengan Dhamma atau Ajaran Sang Buddha. Pelaksanaan Ajaran Sang Buddha ini diwujudkan dengan mengembangkan lima latihan kemoralan atau Pancasila Buddhis. Kelima latihan kemoralan itu adalah latihan untuk tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melanggar kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan. Selain melaksanakan lima latihan kemoralan, ia hendaknya juga mengembangkan latihan konsentrasi dalam bermeditasi. Latihan kemoralan serta meditasi inilah yang perlu dipertahankan sampai kapanpun juga dengan segala resiko yang harus dihadapi.

Bertahan untuk selalu melaksanakan Pancasila Buddhis tentunya lebih mudah daripada berusaha keras selalu melaksanakan latihan konsentrasi atau bermeditasi. Pelaksanaan Pancasila Buddhis biasanya masih didukung oleh masyarakat tempat seseorang bertinggal. Pada umumnya, masyarakat juga tidak mudah menerima orang yang gemar melakukan pembunuhan, pencurian, perjinahan, bohong maupun mabuk-mabukan. Bahkan, kadang undang-undang suatu negara pun melarang warganegaranya melakukan lima tindakan buruk ini.

Namun, tetap giat berusaha berlatih meditasi itulah yang agak sulit dilakukan. Apalagi jika ia tinggal dalam lingkungan yang jarang bermeditasi atau malah anti meditasi. Buktinya, meskipun umat Buddha telah mengetahui bahwa Pangeran Siddhattha atau Calon Sang Buddha telah bermeditasi sejak usia tujuh tahun, namun masih sangat banyak umat Buddha yang tidak berusaha menirunya bahkan mereka yang sudah berusia tujuh puluh tahun sekalipun. Padahal, Dhamma lebih mementingkan perubahan perilaku, ucapan maupun pikiran daripada sekedar rajin mengikuti upacara ritual kebaktian. Adapun perubahan perilaku, khususnya cara berpikir hanya bisa dicapai dengan melatih meditasi.

Melaksanakan kemoralan memang bagus namun masih belum lengkap. Kemoralan, walaupun tidak diajarkan Sang Buddha, seseorang masih bisa mendapatkannya dari tata tertib yang berlaku dalam masyarakat, maupun adat setempat. Dasar pelaksanaan kemoralan adalah upaya menjaga kedamaian dan ketenangan dalam hidup bermasyarakat. Namun, melatih meditasi dengan cara seperti yang telah diajarkan oleh Sang Buddha yaitu Vipassana Bhavana kiranya sangat perlu untuk dipelajari dan dilaksanakan secara rutin. Dengan melaksanakan latihan meditasi ini seseorang akan dapat mencapai kebebasan dari kelahiran kembali. Pelaksanaan yang paling sederhana dari latihan meditasi ini adalah dengan selalu bertanya dalam batin, ‘Saat ini saya sedang apa?’ Kemampuan seseorang untuk selalu menjawab dengan tepat pertanyaan ini menunjukkan bahwa ia telah mampu mengembangkan kesadaran pada setiap saat kehidupannya. Inilah tujuan latihan Vipassana Bhavana.

Apabila seseorang telah mampu berlatih meditasi Buddhis yang disebut dengan Vipassana Bhavana ini maka sesungguhnya ia baru layak merasa bangga sebagai seorang umat Buddha. Kebanggaan sebagai umat Buddha bukan timbul karena ia telah lama mengenal Dhamma ataupun rajin melaksanakan upacara ritual. Bukan itu. Kebanggaan sebagai umat Buddha baru layak dimiliki apabila ia telah mampu melaksanakan Ajaran Sang Buddha dan mampu mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Ia yang semula penuh ketamakan, kebencian serta kegelapan batin, apabila setelah mengenal dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha menjadi terbebas dari ketiga akan perbuatan itu maka pada tingkat seperti inilah ia layak berbangga.

Sebagai dasar agar seseorang mampu selalu bertanya, ‘Saat ini saya sedang apa?’ ia hendaknya mulai berlatih meditasi konsentrasi secara rutin. Lakukan meditasi konsentrasi setiap pagi bangun tidur dan malam menjelang tidur sekitar 15 sampai 30 menit setiap kali duduk. Carilah posisi duduk di lantai dengan bersila yang enak, tegak namun tetap santai. Letakkan kedua tangan di pangkuan. Telapak tangan kanan diletakkan di atas telapak tangan kiri dengan kedua ujung ibu jari dipertemukan. Pejamkan kedua mata dan pusatkan seluruh perhatian pada pengamatan saat nafas masuk dan keluar yang mengalir secara alamiah. Tanpa diatur maupun ditahan. Apabila pikiran memikirkan hal lain, maka segera pusatkan kembali pikiran pada obyek meditasi tersebut. Demikian seterusnya sampai waktu meditasi yang telah ditentukan selesai. Dengan rutin melatih meditasi konsentrasi seperti ini, maka pelaku meditasi akan mendapatkan banyak manfaat. Adapun sebagian manfaat yang dapat disebutkan di sini adalah:

Bila ia seorang pedagang yang selalu sibuk, meditasi menolong membebaskan dirinya dari ketegangan sehingga ia menjadi relaks kembali.
Kalau ia sering berada dalam kebingungan, meditasi akan menolong menenangkan diri dari kebingungan dan meditasi membantu mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun permanen.
Bila ia mempunyai banyak persoalan yang seolah-olah tidak putus-putusnya, meditasi dapat menolong menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Bila ia tergolong orang yang kurang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, meditasi dapat menolong mendapatkan kepercayaan terhadap diri sendiri yang sangat dibutuhkan. Memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri adalah kunci rahasia kesuksesan.
Kalau ia mempunyai rasa ketakutan dan keraguan, meditasi dapat menolong mendapatkan pengertian yang benar terhadap keadaan yang menyebabkan ketakutan itu, dengan demikian, ia dapat mengatasi rasa takut tersebut.
Jika ia selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam kehidupan ini atau yang berada dalam lingkungannya, meditasi akan memberi perubahan dan perkembangan pola pikir sehingga menumbuhkan rasa puas dalam batin.
Jika ia ragu-ragu dan tidak tertarik terhadap agama, meditasi akan dapat menolong mengatasi keragu-raguan itu sehingga ia dapat melihat nilai-nilai praktis dalam bimbingan agama.
Jika pikiran kacau dan putus asa karena kurang mengerti sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, maka meditasi akan dapat membimbing dan menambah pengertian bahwa pikiran kacau itu sebenarnya tidak ada gunanya.
Kalau ia seorang pelajar, meditasi dapat menolong menimbulkan dan menguatkan daya ingat sehingga apabila ia belajar akan lebih seksama dan berguna.
Kalau ia seorang kaya, meditasi dapat menolong untuk melihat sifat kekayaan dan mampu menggunakannya dengan sewajarnya, untuk kebahagiaan sendiri maupun kebahagiaan orang lain.
Jika ia seorang miskin, meditasi dapat menolong agar ia memiliki kepuasan dan ketenangan batin. Dengan demikian, ia akan terhindar dari keinginan untuk melampiaskan rasa iri hatinya kepada orang lain yang lebih mampu atau yang lebih berada daripadanya.
Kalau ia seorang pemuda yang kebingungan sehingga tidak mampu menentukan jalan hidup ini, meditasi dapat menolong untuk mendapatkan pengertian tentang kehidupan sehingga ia dapat menempuh salah satu jalan yang benar untuk mencapai tujuan hidupnya.
Kalau ia seorang yang telah lanjut usia dan merasa bosan terhadap kehidupan ini, meditasi akan menolong untuk mengerti secara mendalam mengenai hakekat kehidupan ini sehingga timbullah semangat hidup.
Kalau ia seorang pemarah, dengan bermeditasi ia dapat mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengendalikan kemarahan, kebencian, rasa dendam dsb.
Kalau ia seorang yang bersifat iri hati, dengan meditasi ia akan menyadari bahaya yang timbul dari sifat iri hati itu.
Jika ia seorang yang selalu diperbudak oleh kemelekatan panca indria, meditasi dapat menolong mengatasi nafsu dan keinginan tersebut.
Kalau ia seorang yang selalu ketagihan minuman keras / sesuatu yang memabukkan, dengan bermeditasi ia dapat menyadari dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu. Kebiasaan yang memperbudak dan mengikatnya.
Kalau ia seorang yang pintar ataupun tidak, meditasi memberi kesempatan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan pengetahuan yang sangat berguna bagi kesejahteraan sendiri, keluarga serta handai taulan.
Kalau ia dengan sungguh-sungguh melaksanakan latihan meditasi ini, maka semua nafsu emosi tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Kalau ia seorang yang bijaksana, meditasi akan membawanya menuju ke kesadaran yang lebih tinggi dan mencapai “Penerangan Sempurna”, ia akan melihat segala sesuatu menurut apa adanya (sewajarnya).
Sedemikian banyak manfaat berlatih meditasi secara rutin yang bisa disebutkan dalam kesempatan ini. Tentu saja masih jauh lebih banyak manfaat lain yang tidak dapat disebutkan di sini. Namun, dengan mengerti sedemikian banyak manfaat meditasi yang mungkin bisa diperolehnya, seseorang hendaknya makin bersemangat untuk selalu berlatih meditasi secara rutin walaupun mungkin lingkungan tidak mendukung. Manfaat meditasi yang layak dijadikan kebanggaan ini tidak dapat dijumpai atau ditemukan dalam buku, apalagi dapat dibeli di warung. Uang tidak dapat dipakai untuk memperolehnya. Seseorang hanya akan mendapatkan semua manfaat tersebut apabila ia mau melaksanakan latihan meditasi secara rutin. Ia akan menemukan semua manfaat meditasi dalam pikirannya sendiri.

Menyadari sedemikian besar manfaat meditasi yang telah diajarkan oleh Sang Buddha, para umat hendaknya berbangga dengan ‘kehebatan’ Sang Guru Agung. Beliaulah satu-satunya guru yang pada usia 7 tahun telah mencapai tingkat tinggi dalam meditasi. Beliau pula yang dalam usia 29 tahun rela meninggalkan keduniawian, istana dan keluarga, untuk berusaha menolong penderitaan semua mahluk. Beliau juga yang pada usia 35 tahun mencapai kesucian karena usahanya sendiri. Beliau pula yang menjadi guru terlama karena mengajar Dhamma selama 45 tahun tanpa memancing timbulnya permusuhan dari fihak manapun juga. Inilah berbagai faktor yang ada dalam diri Sang Guru yang layak menjadi kebanggaan setiap umat Buddha. Namun, umat Buddha hendaknya jangan hanya merasa puas dan berbangga atas sedemikian banyak kelebihan yang dimiliki oleh Sang Buddha. Umat Buddha hendaknya berusaha meniru dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, umat Buddha akan memperoleh manfaat dan kebahagiaan dalam Buddha Dhamma. Umat Buddha yang mampu mengubah perilakunya menjadi lebih baik bahkan mencapai kesucian setelah melaksanakan Ajaran Sang Buddha, maka umat seperti inilah yang sesungguhnya layak berbangga.

Oleh karena itu, mulai sekarang juga jangan ada keraguan lagi dalam diri umat Buddha. Walaupun umat Buddha mungkin hanya satu-satunya dalam suatu kelompok masyarakat. Atau, ia satu-satunya umat Buddha dalam keluarga. Ia hendaknya menjadikan kesendirian ini sebagai pembangkit semangat seperti yang telah diteladankan oleh Sang Guru Agung dalam berbagai kisah di atas. Tunjukkanlah kepada lingkungan bahwa umat Buddha seperti sekuntum teratai yang mampu tumbuh indah dan bersih walaupun berasal dari lingkungan yang basah dan penuh lumpur. Laksanakanlah Ajaran Sang Buddha, khususnya berlatih meditasi dengan tekun serta penuh semangat sehingga umat Buddha dapat mencapai kebahagiaan dalam kehidupan ini, kebahagiaan dalam kehidupan-kehidupan mendatang dan bahkan kebahagiaan ketika ia berhasil mencapai kesucian yaitu Nibbana. Inilah kebanggaan yang layak dimiliki oleh seorang umat Buddha.

Semoga penjelasan ini akan membangkitkan kebanggaan positif umat Buddha karena ia telah mampu melaksanakan dan mendapatkan manfaat dari Buddha Dhamma.

Sesungguhnya orang yang yakin dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha akan berbahagia dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang.

Semoga semuanya selalu berbahagia.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Transkrip: Umat Buddha Medan
Editor : B. Uttamo